Indonesian Stories

Rainy Day at the Boarding House

Intermediate

Sejak pagi, hujan deras mengguyur kosku di Yogyakarta, dan suara air di atap terdengar seperti tepuk tangan panjang.

Tadi niat mau ke kampus, tapi dosen mengirim pesan agar kelas daring saja, jadi ransel kutaruh lagi di pojok.

Adit, teman sekamar, sudah menyalakan kompor kecil; ia merebus mi instan sementara aku menyeduh kopi tubruk, dan dapur langsung wangi.

Angin mendorong air lewat celah jendela, jadi kami menutup rapat tirai dan menaruh handuk di bawahnya supaya lantai tidak licin.

Tiba-tiba lampu berkedip lalu padam, namun suasana malah jadi hangat ketika kami menyalakan lilin kecil dan mendengarkan ritme hujan.

Daripada mengeluh, kami makan mi dari panci yang sama, lalu mengobrol soal kenangan saat SD waktu pulang sekolah sambil kehujanan.

Tak lama, Bu Rini dari kamar ujung mengetuk pintu dan minta tolong meminjam ember, karena atap lorong bocor dan air merembes.

Kami ambil dua ember bekas cat dan mengalirkannya ke titik bocor, sementara sandal sudah basah tapi hati agak lega bisa bantu.

Setelah itu kembali ke kamar, kuambil novel tipis dan Adit menata papan congklak; hujan terus mengalun seperti musik latar.

Kami bergantian membaca dan bermain, kadang tertawa ketika biji congklak jatuh satu-satu, dan waktu terasa melambat.

Menjelang sore, listrik menyala lagi; kami menatap jendela yang masih berkabut dan sepakat bahwa hari basah begini tetap bisa jadi cerita menyenangkan di dalam kamar kos.

Comprehension Questions

1. Where does the story mainly take place?

2. What do the narrator and Adit cook during the rain?

3. Why does Mrs. Rini knock on their door?

4. How do they pass the time while waiting for the power to return?

Privacy
TOS