Minggu pagi saat Car Free Day di Sudirman, aku berniat menyewa sepeda lipat karena keramaian membuatku malas berjalan jauh.
Di deretan tenda oranye, seorang bapak bernama Pak Rudi menawarkan sewa per jam, lengkap dengan helm dan kunci, tapi meminta KTP sebagai jaminan.
Sempat ragu, karena dompet tinggal kartu itu saja, tapi ia menenangkan, bilang, "Santai, Mas, saya di sini tiap minggu, ketemu saya gampang."
Akhirnya kuberikan KTP, kami foto bareng sepeda sebagai bukti, lalu ia mengatur sadel sambil bertanya mau rute yang ramai atau yang teduh.
Baru dua putaran, rantai tiba-tiba lepas gara-gara aku mengganti gigi terlalu cepat, dan paniklah sebentar karena terbayang waktu sewa terus berjalan.
Kebetulan Pak Rudi melintas mengecek penyewa lain; tanpa menyalahkan, ia jongkok, menunjukkan cara memasang rantai dengan sarung tangan kain, dan menyarankan aku lebih pelan saat menanjak.
Kami tertawa kecil melihat tanganku belepotan oli, padahal tadi sudah kubersihkan dengan tisu basah dari minimarket.
Setelah itu, kuputuskan mengubah rute, alih-alih mengejar kecepatan aku menyusuri trotoar lebar di bawah rindang pohon trembesi, berhenti sejenak beli air kelapa dari pedagang gerobak.
Begitu satu jam hampir habis, kukembalikan sepeda lebih cepat; Pak Rudi mengangguk, menghitung menit yang tersisa, lalu menawarkan potongan karena insiden rantai tadi.
Katanya, penyewa yang mau belajar menjaga sepeda layak dihargai, dan ia berharap aku balik lagi pekan depan, mungkin coba tandem biar bisa gantian mengayuh dengan teman.
Dalam perjalanan pulang naik MRT, kurasakan kelegaan aneh: ternyata menyewa bukan cuma soal bayar dan pakai, melainkan soal saling percaya yang dibangun dari percakapan singkat di pinggir jalan.
KTP kembali ke dompet, lenganku pegal enak, dan di grup pesan kampus kubagikan rute teduh rekomendasi Pak Rudi, yang langsung disimpan teman-teman untuk akhir pekan depan.