Indonesian Stories

Under the Janur Arch

Advanced

Hujan sore baru saja reda ketika aku tiba di balai warga, janur kuning melambai seperti tangan yang mengundang masuk.

Resepsi sepupuku, Raras, sudah riuh rendah; antrean salaman mengular, sementara gamelan meninabobokan kegugupan yang tak kunjung padam.

Sepatu belepotan lumpur tetap kupakai, sebab tak elok membuat tamu lain menunggu hanya demi kesempurnaan penampilan.

Di dekat pelaminan yang berhiaskan melati dan kain lurik, Bude Mirah—yang tutur katanya lincah bak kerlip lampu—menepuk lenganku dan, tanpa basa-basi, menanyakan kapan giliranku.

Kusiasati dengan senyum dan jawaban sekenanya, karena di hajatan begini, pertanyaan itu sudah jamak dan tak perlu dipikir masak-masak.

Tatkala Raras dan suaminya melakukan sungkeman kepada orang tua, suasana sontak hening; tawa yang sedari tadi pecah-pecah pun merapat seperti daun yang terkena embun.

Aku menyaksikan air mata Pakde jatuh pelan, mengingatkanku pada masa kecil kami—berlarian di gang sempit, berebut es lilin—yang kini tinggal cerita disapu waktu.

Seusai doa, kami bersalaman; Raras berbisik, "Datangmu cukup," kalimat sederhana yang rasanya memantapkan langkahku lebih dari sekotak seserahan.

Di sudut prasmanan, kuambil gudeg yang legit dan segelas es dawet, lalu duduk berdempetan dengan tamu tak kukenal yang, alih-alih canggung, justru mengajak ngobrol soal macet dan harga cabai.

Begitulah, pesta pernikahan di kota: keluarga dekat bercampur saudara jauh, nostalgia bertaut dengan obrolan remeh, semuanya dirajut menjadi keakraban yang tak dibuat-buat.

Pulang-pulang, amplop tak seberapa sudah kutitipkan, tetapi hati terasa penuh—seakan-akan di bawah lengkung janur tadi, bukan hanya mereka yang berjabat janji, melainkan kami semua yang disatukan harapan.

Comprehension Questions

1. Where did the wedding reception take place?

2. What moment made the room fall silent?

3. What food and drink did the narrator take at the buffet?

4. What did Raras whisper to the narrator after the prayer?

Privacy
TOS