Rani berhasil dapat tiket presale konser band favoritnya dan mengajakku nonton di Istora Senayan.
Kami berangkat lebih awal karena takut macet, tetapi hujan turun deras dan bus TransJakarta sempat terhenti lama.
Sambil menunggu, kami ngobrol tentang setlist yang kami tebak, dan aku cek ulang baterai ponsel yang tinggal 50 persen.
Begitu tiba, antrean sudah mengular, namun petugas tertib sehingga kami masuk tepat saat lampu panggung padam.
Sorakan penonton pecah, dan aku merinding ketika lagu pembuka mengalun, seolah seluruh ruangan bernapas bersama.
Rani memotret beberapa momen, tapi kami sepakat menikmati lagu tanpa terlalu sibuk merekam.
Di tengah konser, vokalis menyapa penonton dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar, lalu menceritakan kenapa lagu barunya ditulis.
Kami ikut bernyanyi pada bagian reff, sementara lampu sorot berubah warna-warna hangat yang membuat suasana makin dekat.
Setelah dua jam, mereka pamit, tetapi penonton belum mau pulang dan berteriak minta encore.
Band kembali ke panggung, membawakan hit lama, dan kami melompat bersama meski kaki sudah pegal.
Keluar dari venue, kami beli kaus resmi sebagai kenang-kenangan, lalu naik MRT terakhir sambil saling bertukar video.
Capeknya luar biasa, namun hati ringan, karena malam itu terasa seperti hadiah setelah minggu yang panjang.