Habis lembur yang bikin kepala berat, aku mampir ke rumah makan Padang kecil di gang belakang kantor.
Hujan masih rintik-rintik, dan di papan tulis dekat kasir tertulis menu hari ini yang bikin mata langsung lapar.
Sambil menunggu meja kosong, aku sudah menimbang-nimbang antara sop buntut yang katanya melegenda dan ikan bakar yang baru keluar dari panggangan.
Begitu duduk, pelayan menyodorkan piring kosong, dan tanpa ditanya aku memilih nasi hangat, ayam goreng kremes, sayur nangka, plus sambal ijo yang katanya pedasnya “jujur.”
Teman lama tiba-tiba muncul dari balik pintu—ternyata kantor barunya cuma sepelemparan batu—dan dia memesan sate Padang serta teh tawar hangat.
Aroma bumbu menyeruak, seakan-akan hujan di luar ikut menunduk, tapi nasi yang datang agak dingin, jadi kubilang pelan, dan pelayan cepat-cepat menggantinya dengan yang mengepul.
Di meja sempit itu kami bagi-bagi kerupuk, icip-icip sambal secuil, lalu tertawa waktu aku kepedasan sampai cegukan, padahal dari tadi sok bilang, “Pedas mah santai.”
Ibu pemilik datang menanyakan rasa, bercerita harga cabai yang naik-turun, dan sambil tersenyum ia menambahkan lalapan segar, katanya biar “lidah istirahat.”
Walaupun suasana padat dan kursi rapat-rapat, rasanya akrab; obrolan meja sebelah tentang bola menyatu dengan bunyi sendok, membuat makan malam ini seperti pesta kecil yang tidak direncanakan.
Saat bayar di kasir, mesin kartu sempat ngadat, jadi kubongkar dompet dan menambal kekurangan pakai receh, yang diganti permen dua biji—ritual kecil yang entah kenapa selalu bikin senyum.
Keluar dari warung, hujan sudah reda, perut penuh dan hati enteng, dan kami janji balik lagi waktu gajian, karena sambal di sini, kata temanku, “nendang, tapi peluk.”